Saat saya diam

•January 26, 2010 • Leave a Comment

Kadang saya hanya ingin diam. Bukan karena saya sakit. Bukan karena saya marah, pun kena marah. Bukan juga karena saya sedang menghadapi masalah berat. Ini hanya karena saya sedang ingin diam.

Biarkan saja saya duduk diam. Tanpa ekspresi. Membebaskan pikiran saya. Melepaskan hati saya. Menyamankan raga saya. Membiarkan sekeliling saya menduga apa yang terjadi. Dan saya hanya akan diam.

Maka biarkanlah saya diam. Entah kenapa. Dan entah sampai kapan.  Karena saya tidak tahu jawabannya. Dan saya tidak  mau mencari tahu jawabannya.

Lagi banyak maunya nih …

•October 1, 2009 • 2 Comments

Dear Tuhan,

Tolong jangan biarkan dhian berbuat kebodohan yang sama lagi ya ….

Sudah cukup yang dulu.  Jangan biarkan dhian jatuh ke lubang yang sama.

Meskpun ada rasa nyaman yang sama. Hangat yang sama. Rindu yang sama. Bimbang yang sama.

Separuh hati saya menginginkannya, tapi separuh lainnya mencegah.

Bolehkah saya mengintip sedikit ‘ peta’ yang telah Kau buat? Hanya untuk sekedar memastikan untuk tinggal atau melanjutkan  perjalanan…

Dear,

•September 29, 2009 • Leave a Comment

You know you always make my day…  So, why dont you make the good one?

Sisa reuni

•September 27, 2009 • Leave a Comment

Jaman Sd dulu kalaaa, dua temen SD sayah lagi ngobrol nih …

A (cowo) : kamu bawa apa tuh di kantong *sambil nunjuk kantong di dada si A*

B (cewe, kebetulan punya t*k*t gede  untuk ukuran anak SD :) ) :  ga bawa apa-apa kok…. *sambil buka kantong saku*

A : masak sih? kok itu sakunya gede bangeet sih. Apa isinya?

B : *bengong*

Gubrak!!!!!Bwahahahaaa …

Lebaran kali ini …

•September 27, 2009 • Leave a Comment

Mohon maaf lahir dan batin smuanya ..

Smoga kalian  menikmati lebaran kali ini ya … Kalau saya … ummm… lebaran kali ini hampir tidak beda dengan taun kemaren. Masi menerima pertanyaan yang sama. Yes yu rait. That’s ‘when’ question :) . Saya masi suka menghabiskan waktu saya di rumah untuk makan, tidur, nge-game, makan lagi, tidur lagi hehehe. Ah ya … saya juga masi males ke rumah mbah,  ke rumah Mino hanya gara2 males ditanyain. Ya … ya itu memang tindakan yang sangat kekanakan. Saya hanya ngga siap menjawabnya. That’s all.

Saya juga masi melakukan rutinitas reunian dengan temen kampus. Gosippp dan ngobrol yang ujung2nya ga jelas. And i really luv enjoying time with u, gals :P .

Yang berbeda taun ini, saya bertemu temen SD yang uda tahunan ga ktemu. Kami terakhir ktemu selepas SD. Ngobrol ngalor ngidul. Menceritakan betapa culunnya kami saat itu. Terutama saya dengan kacamata kuda, yang lengkap mereka peragakan gerakan saya. Tentu saja  insiden ‘kelas dua’ juga ikut diceritakan. Bahkan guru saya juga masi ingat ketika saya, karena insiden ituh. I bet they’ll remember it  ’till the rest of their life hahaha. Waktu tiga jam masi kurang untuk bercerita tentang betapa berbedanya kami ketika sudah beranjak dewasa.

Saat salah seorang pulang, obrolan saya masi berlanjut. Meluncurlah tentang cerita trauma seorang teman saat SD. Seorang teman perempuan iseng dijodohin dengan cowok yang kami anggap kala itu paling pintar di kelas. Ntah knapa, cowo itu secara spontan bilang nggak mau dan sempat mengucap alasannya si cewek menjijikkan.  Banyak yang menganggap hal itu masi wajar dan menganggapnya guyonan. Tapi ternyata itu sangat membekas dalam pikiran teman perempuan saya. Dia menganggap menjjikkan adalah barang yang sudah dibuang di tempat sampah. Belasan taun dia menganggap dirinya menjijikkan, lebih jelek dari si buruk rupa. Sampai dia memutuskan untuk tidak berhubungan dengan lelaki manapun….     *sigh*

Belakangan dia memberanikan diri mengatakan pada temen cowok itu.  Tentu saja si cowok tidak menyangka kata-katanya akan membuat temen perempuan saya se-trauma itu. Setelah itu temen perempuan kami mulai membuka diri. Pffiuhh, thanks God….

Tiba-tiba saya tersadar satu hal … it happens to me in different way …

Apa yang saya alami saat kecil, membuat beberapa sifat saya saat ini. Saya tau, saya tidak bisa menyalahkan keadaan itu. It already happened. Hanya sayalah yang membuatnya berubah.  Hey … skali lagi Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkan saya tentang sesuatu. Alhamdulillah ..  :)

Tentang gundah hati

•September 9, 2009 • Leave a Comment

Terlalu banyak yang memenuhi kepala hati saya. Tentang ketidakpercayaan diri. Tentang kecemburuan. Tentang cinta yang belum berujung. Tentang keangkuhan diri yang belum terselesaikan.

Itu yang membuat saya menggila akhir-akhir ini. Saya bahkan tidak bisa membicarakan gundah hati saya pada siapapun. Tidak pada sahabat, saudara. Pun orang tua saya. Yup. Saya hanya bisa menyimpannya di sebelah hati saya. Bukan … bukan di permukaan hati. Tapi jauuuhhh… di bagian dalam hati saya.  Saya harus memastikan tidak ada seorangpun yang akan menemukannya. Kali ini saya tidak bisa menunjukkannya pada siapapun.

Bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah dengan perasaan saya. Saya percaya hal itu. Tidak akan pernah ada yang salah tentang perasaan cinta. Tidak pernah ada ikatan yang membuatnya punah. Tidak juga jarak yang membuatnya hilang. Ini hanya masalah angkuhnya hatinya dan hati saya.

Itulah yang membuat saya tidak bisa seenaknya memeluknya saat dia jatuh. Sekedar menepuk punggungnya dan mengatakan, ‘ it’s ok. everything’s gonna be alright’.  Saya tidak bisa membuatkannya segelas teh hangat, saat sakit menyerangnya. Meskipun saya ingiiiin sekali melakukannya. Saya juga tidak punya keberanian untuk menanyakan kabarnya hari ini. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah makan tepat waktu? *sigh*

Tahukah kau, kadang aku hanya sekedar duduk berdua saja denganmu. Mendengarkan ceritamu. Bercerita tentang hariku. Berbagi mimpi. Atau sekedar mendengarmu bernyanyi..

Bukan sesuatu yang berlebihan bukan? Hope we’ll make it, someday… :)

Sudahlah ..

•August 27, 2009 • Leave a Comment

Sebaiknya kita selesaikan permainan ini…

Hanya akan memperburuk semuanya. Aku sudah capek berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa dengan hatiku.

Sekarang giliranmu membuka semua tabir kepur-puraan yang membentengi kita …