Hujan

Semalem saya pengen nulis tentang hujan. Pas mampir ke yuqiww eh .. ternyata juga menulis tentang hal yang sama dengan angle yang beda … *tsah* ..

Tapi saya urung menulisnya semalam. Saya takut mewek lagih hehehe. Sekarang sih .. hati saya udah baekan. Uda lega menangis kemaren (huhuhu .. maaf ya teman-teman ngerusak acara keroke), malemnya ditemenin di kosan sama yuqiw …

Jakarta mulai hujan. Kesel sih kalo ujan terus-terusan. Baju ga ada yang kering, jalan ga bersahabat apalagi ke kosan. Dijamin bagian bawah celana dan sepatu kotor kena lumpur. Sebenarnya saya menyukai hujan. Tidak seperti saya mencintai langit dan laut biru sih…. tapi saya senang memandangnya turun dari langit. Ga hanya itu. Saya senang mencium bau tanah selepas hujan, pelangi yang muncul setelah hujan berhenti… atau sekedar memandang rinai hujan dari balik jendela.

Kemarin siang hujan turun sebentar. Mungkin kurang lega, turun lagi dengan deras sore hari… sampai lama malah. Saya lama sekali menikmatinya dari jendela ruangan salah satu petinggi lantai ini. Yang ada dalam pikiran saya, mungkin awan lega sekali setelah melepaskan bebannya. Semua air hujan tercurah dari langit.

Sebenarnya saya pengen banget keluar dari gedung, terus menengadahkan wajah, merentangkan tangan … menikmati setiap tetes air yang turun …

Seperti yang biasa saya lakukan saat saya masih kecil. Uwaaaah nikmatnya …

Mungkin kalau saya benar-benar melakukannya, dijamin banyak yang akan mengernyitkan kening ato malah memanggil security dan HRD .. hehehe berlebihan ya.

Gatau kenapa kemarin saya kepikiran, ternyata hujan mendekatkan manusia. Perhatikan saja, saat di jalan semua orang bergegas mencari tempat berteduh. Saat lagi di rumah, biasanya enggan untuk keluar, kecuali lagi benar-benar mensti, kudu wajib keluar rumah karena suatu hal yang penting. Iya doong .. saya sih lebih suka minum coklat, trus ngeringkel di antara bapak, ibu ato adek2 saya sambil ngobrol ato bobo bareng hehehe.

Saat di kantor, pasti menunda pulang (kecuali bawa mobil ato naek taxi ya .. itu juga kalo ga males nyetir pas jalanan macet hehehe. Di kantor saya juga begituh … jadi ajah semua pada nongkrong , becanda, ngejailin anak-anak laen …

Malam ini, saya berharap bisa sejenak menjadi hujan. Agar saya bisa mendekatkan hati saya pada hatinya lagi orang-orang di sekeliling saya. Setidaknya membiarkan muncul pelangi setelah hujan reda dan membiarkan semuanya mencium wangi tanah. Dan berjanji pada semuanya … langit akan lebih cerah seusai hujan …

~ by dhiann on November 4, 2008.

3 Responses to “Hujan”

  1. BERAWAL DARI HUJAN
    Sudah sore.
    Angin bertiup. Daun-daun luruh di tanah. Sebagian telah menguning dan sebagian terbawa angin dan menjauh. Berderasi seperti puisi, dan meninggalkan kesunyian pada ranting-ranting yang ditinggalkan. Seperti selembar daun muda dan kecil itu, terlepas dari tangkai dan melayang berputar-putar bagai kitiran, sebelum lalu terhempas dan terlupakan. Sedang matahari mulai redup, terendap di hamparan langit kemerahan dan cahayanya terlalu lemah untuk sanggup menerobos dedaunan dan mencetak bercak-bercak cahaya di dinding-dinding.
    Lalu turun hujan, dan deras bagaikan larik-larik mata anak panah dalam sebuah peperangan yang maha dahsyat. Tapi mata panah itu bukan menancap melainkan pecah. Pecah pada tanah. Dan sebagian yang lain bersama-sama membentuk genangan yang mengambangkan daun-daun seperti perahu-perahu kecil yang terombang-ambing di tengah samudra, dan menghasilkan gelombang kecil lingkar-lingkar yang menyebar dan semakin besar. Basah, semuanya basah. Dan indah, bila dilihat dari jendela seperti goresan lukisan cat air yang dibingkai. Atau selembar kartu pos yang romantis.
    Lalu hujan reda. Hujan selalu datang dan pergi begitu saja tanpa pesan. Seperti cinta

    dhi : uwaaaaah … puitis sekali ..

  2. ohoh…

    saya selalu cinta hujan!

    S.E.L.A.L.U.

    hujan memang punya itu, banyak arti ;)

    : dhi : yup … kayanya gimana gituh ..daleeeem

  3. ah…. hujan…

Leave a Reply