A mourning morning

Depart. Leave. Berangkat.

Saya lebih senang menyebutnya demikian. Lebih terdengar menenangkan, dibanding ‘dipanggil Tuhan’, mati, meninggal, atau wafat.

Yup. Leaving for our next trip. Everybody has a ticket. And there’s only one destination. We dont need to book. We cant change or refund the ticket, anyway… And no need to check your belonging. Coz we’re not suppose to bring anything. Just enjoy our trip …

Satu dini hari …

Saya pernah berkeluh kesah lama dengan salah satu sahabat saat menjelang pagi… Saya merasa, sudah dekat waktu berangkat. Seperti sudah mengantongi tiket. Tiba-tiba bermunculan lah semua dalam pikiran saya. Tentang banyak hal yang belum terselesaikan. Tentang janji saya dengan orang-orang tercinta saya. Tentang perasaan bersalah saya di masa lalu. Tentang ‘bekal’ selama perjalanan nanti, yang belum cukup terkumpul. Soal ‘packing’ yang masih berantakan. Tentang sesuatu yang menyesakkan dada saya. And Thanks God and him …  I feel much much better after sesion of crying and our looooooong conversation.

Pun semalam. Saya merasakannya lagi. Kali ini saya hanya bisa memendamnya sendiri. Menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam pikiran saya. Apakah seseorang akan tau saat tiket sudah di tangan? Apakah dia takut  tidak ada kepastian ‘destination’?  Apa rasanya menjadi dia beberapa hari sebelumnya?  Apakah nanti saya akan merasakan sindrom ‘berangkat’ … seperti sindrom yang selalu saya rasakan tiap mau berangkat liputan ke luar kota? Well, suddenly i get panic attack …

Seorang sahabat ‘pergi’ subuh kemaren…

Lama saya cuma diam. Sbelum akhirnya saya mengabarkan pada sahabat saya lainnya.

Adalah Yan. Saya akhirnya bertemu dengannya di jejaring sosial beberapa bulan yang lalu. Pertemuan terakhir lebih dari sepuluh tahun silam. Saat saya masih haha hihi tanpa beban. Wara wiri ke tempat kosnya, sambil ngeceng anak jurusan sebelah, yang kebetulan di sekitar sana. Sekedar makan baso bawor bareng. Atau numpang ngaso di sela-sela jam kuliah yang tidak bersahabat.Well, we’re close enough at that moment. Kalo nggak bisa dibilang intim. Dia menghilang tahun-tahun terakhir kuliah.Sayapun terlalu sibuk dengan diri saya.

Tidak banyak yang berubah setelahnya. Dia sudah menjadi guru di daerah asalnya, sementara saya merantau di Jakarta. Tapi, jarak dan waktu membuat kerikuhan tak terhindarkan.

Yang tersisa, adalah saling menyapa di jejaring sosial, pesan-pesan pendek. Mulai merancang reuni kecil-kecilan yang tidak pernah terwujud. Sampai akhirnya dapat kabar, dia memindahkan ruang tidurnya ke rumah sakit. Tak ada prasangka apapun, hanya doa agar dia cepat sembuh. Seminggu yang lalu, dengan beberapa teman mengangankan menemuinya … mewujudkan reuni kecil kami. Ternyata hanya hitungan hari, membuat kabar yang terdengar tidak lagi membuat saya tersenyum.

Sedikit gundah, saat seorang sahabat mengabarkan firasat buruknya karena dia meminta kami datang langsung. Semakin gundah saat kemarin lusa, seorang kawan menyuruh kami cepat menemuinya. Semakin bersalah saat mendengar kepergiannya, tanpa sempat menemuinya.

Tidak ada yang menyangka ternyata dia sudah mengantongi tiket itu.  Mungkin saat mengatakan semuanya baik-baik aja. Atau saat mengundang kami menemuinya. Tidak ada yang tau. Tidak ada juga yang bisa menolaknya ketika itu tiket sudah di-issued-Nya.

It sounds cliche …

It might be the best way for her. God definitely love her. All I can do is pray for her…

… and thanks for remind me about the day I have to leave…

p.s. Have a nice trip, Yan … Enjoy your real heaven

~ by dhiann on April 18, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.