numb

•September 1, 2011 • Leave a Comment

It happened again … and i (still) didn’t know what to do …

Oh dear God, please ….

A mourning morning

•April 18, 2011 • Leave a Comment

Depart. Leave. Berangkat.

Saya lebih senang menyebutnya demikian. Lebih terdengar menenangkan, dibanding ‘dipanggil Tuhan’, mati, meninggal, atau wafat.

Yup. Leaving for our next trip. Everybody has a ticket. And there’s only one destination. We dont need to book. We cant change or refund the ticket, anyway… And no need to check your belonging. Coz we’re not suppose to bring anything. Just enjoy our trip …

Satu dini hari …

Saya pernah berkeluh kesah lama dengan salah satu sahabat saat menjelang pagi… Saya merasa, sudah dekat waktu berangkat. Seperti sudah mengantongi tiket. Tiba-tiba bermunculan lah semua dalam pikiran saya. Tentang banyak hal yang belum terselesaikan. Tentang janji saya dengan orang-orang tercinta saya. Tentang perasaan bersalah saya di masa lalu. Tentang ‘bekal’ selama perjalanan nanti, yang belum cukup terkumpul. Soal ‘packing’ yang masih berantakan. Tentang sesuatu yang menyesakkan dada saya. And Thanks God and him …  I feel much much better after sesion of crying and our looooooong conversation.

Pun semalam. Saya merasakannya lagi. Kali ini saya hanya bisa memendamnya sendiri. Menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam pikiran saya. Apakah seseorang akan tau saat tiket sudah di tangan? Apakah dia takut  tidak ada kepastian ‘destination’?  Apa rasanya menjadi dia beberapa hari sebelumnya?  Apakah nanti saya akan merasakan sindrom ‘berangkat’ … seperti sindrom yang selalu saya rasakan tiap mau berangkat liputan ke luar kota? Well, suddenly i get panic attack …

Seorang sahabat ‘pergi’ subuh kemaren…

Lama saya cuma diam. Sbelum akhirnya saya mengabarkan pada sahabat saya lainnya.

Adalah Yan. Saya akhirnya bertemu dengannya di jejaring sosial beberapa bulan yang lalu. Pertemuan terakhir lebih dari sepuluh tahun silam. Saat saya masih haha hihi tanpa beban. Wara wiri ke tempat kosnya, sambil ngeceng anak jurusan sebelah, yang kebetulan di sekitar sana. Sekedar makan baso bawor bareng. Atau numpang ngaso di sela-sela jam kuliah yang tidak bersahabat.Well, we’re close enough at that moment. Kalo nggak bisa dibilang intim. Dia menghilang tahun-tahun terakhir kuliah.Sayapun terlalu sibuk dengan diri saya.

Tidak banyak yang berubah setelahnya. Dia sudah menjadi guru di daerah asalnya, sementara saya merantau di Jakarta. Tapi, jarak dan waktu membuat kerikuhan tak terhindarkan.

Yang tersisa, adalah saling menyapa di jejaring sosial, pesan-pesan pendek. Mulai merancang reuni kecil-kecilan yang tidak pernah terwujud. Sampai akhirnya dapat kabar, dia memindahkan ruang tidurnya ke rumah sakit. Tak ada prasangka apapun, hanya doa agar dia cepat sembuh. Seminggu yang lalu, dengan beberapa teman mengangankan menemuinya … mewujudkan reuni kecil kami. Ternyata hanya hitungan hari, membuat kabar yang terdengar tidak lagi membuat saya tersenyum.

Sedikit gundah, saat seorang sahabat mengabarkan firasat buruknya karena dia meminta kami datang langsung. Semakin gundah saat kemarin lusa, seorang kawan menyuruh kami cepat menemuinya. Semakin bersalah saat mendengar kepergiannya, tanpa sempat menemuinya.

Tidak ada yang menyangka ternyata dia sudah mengantongi tiket itu.  Mungkin saat mengatakan semuanya baik-baik aja. Atau saat mengundang kami menemuinya. Tidak ada yang tau. Tidak ada juga yang bisa menolaknya ketika itu tiket sudah di-issued-Nya.

It sounds cliche …

It might be the best way for her. God definitely love her. All I can do is pray for her…

… and thanks for remind me about the day I have to leave…

p.s. Have a nice trip, Yan … Enjoy your real heaven

Sisa Semalam

•November 15, 2010 • Leave a Comment

Ummm… Ternyata sudah lama saya gag menyambangi ‘rumah’ saya ini. Nyaris setaun, kalo liat postingan terakhir bulan Januari. Pffiuuuhh….

Pun sekarang… Saya lagi ga pengen bebenah rumah ini. Cm numpang mengaso sejenak. Setelah semalaman menguyupi mata saya dengan air. Saya cm ingin duduk sebentar sampai air di sudut mata saya mengering…

Kangeen saya dengan kehangatan rumah sbenarnya. Kangen saya sama Baba, Bubu, Le dan De Ta. Kangen saya keringkelan, berantem, dimarahi. Kangen rumah Mino sebenarnya dibanding Berbah. Lebih kecil & ancur tapi lebih hangat… Meski ga dipungkiri. Berbah juga cukup hangat.

Kangen saya mungkin lebih karena gagalnya (lebih tepatnya mungkin tertunda) kepulangan saya ke Jogja minggu lalu. Kangen yang terus bertambah dan menumpuk kekhawatiran di dalamnya sejak Merapi melakukan tugasnya…

Aahh… Cukuplah saya membagi sentimentil saya pagi ini. Cuma ingin memejamkan mata sejenak… Smoga saat mata terbuka semuanya jadi lebih terang…

Saat saya diam

•January 26, 2010 • Leave a Comment

Kadang saya hanya ingin diam. Bukan karena saya sakit. Bukan karena saya marah, pun kena marah. Bukan juga karena saya sedang menghadapi masalah berat. Ini hanya karena saya sedang ingin diam.

Biarkan saja saya duduk diam. Tanpa ekspresi. Membebaskan pikiran saya. Melepaskan hati saya. Menyamankan raga saya. Membiarkan sekeliling saya menduga apa yang terjadi. Dan saya hanya akan diam.

Maka biarkanlah saya diam. Entah kenapa. Dan entah sampai kapan.  Karena saya tidak tahu jawabannya. Dan saya tidak  mau mencari tahu jawabannya.

Lagi banyak maunya nih …

•October 1, 2009 • 2 Comments

Dear Tuhan,

Tolong jangan biarkan dhian berbuat kebodohan yang sama lagi ya ….

Sudah cukup yang dulu.  Jangan biarkan dhian jatuh ke lubang yang sama.

Meskpun ada rasa nyaman yang sama. Hangat yang sama. Rindu yang sama. Bimbang yang sama.

Separuh hati saya menginginkannya, tapi separuh lainnya mencegah.

Bolehkah saya mengintip sedikit ‘ peta’ yang telah Kau buat? Hanya untuk sekedar memastikan untuk tinggal atau melanjutkan  perjalanan…

Dear,

•September 29, 2009 • Leave a Comment

You know you always make my day…  So, why dont you make the good one?

Sisa reuni

•September 27, 2009 • Leave a Comment

Jaman Sd dulu kalaaa, dua temen SD sayah lagi ngobrol nih …

A (cowo) : kamu bawa apa tuh di kantong *sambil nunjuk kantong di dada si A*

B (cewe, kebetulan punya t*k*t gede  untuk ukuran anak SD 🙂 ) :  ga bawa apa-apa kok…. *sambil buka kantong saku*

A : masak sih? kok itu sakunya gede bangeet sih. Apa isinya?

B : *bengong*

Gubrak!!!!!Bwahahahaaa …